Di prediksikan bahwa Dana Moneter Internasional atau IMF yang nemngingat terkait dana kekayaan pada negara yang berada di kawasan teluk persia di Timur Tengah kaa terus tergerus hingga kurang kebih 15 tahun kedepan, hal tersebut dikarenakan dari pemintaan minyak global yang mengalami penurunan dalam jangka panjang menurut sebuah prediksi yang telah di kemukakan tersebut.

Seperti yang kita ketahui bahwa negara-negara yang berada di kawasan teluk persia diantaranya adalah Arab Saudi, Oaman, Yemen, Uni Emirat Arab, Quwait, Bahrain dan Qatar, dimana negara-negara tersebut terkenal dengan adidaya minyak gobalnya yang begitu melimpah, dan sangat kaya negara-negara tersebut dibuatnya dengan hasil minyak yang melimpah tersebut, tidak heran memang jika negara tersebut begitu terkenal dengan kekayaan serta kemewahannya.

Pada sebuah kutipkan yang disebutkan “Pada saat posisi fiskal disaat ini, kekayaan di kawasan (Teluk) akan diperkirakan¬† habis pada tahun 2034,” tutur IMF dalam sebuah studi “Masa Depan Mengenai¬† Minyak dan Keberlanjutan Fiskal” dalam sebuah kawasan tersebut pernyataan yang di kutip dari AFP pada hari jum’at 7 Februari 2020.

Berdasarkan penelitian yang berlangsung memang di kabarkan bahwa kurang lebih 2 tahun terakhir ini beberapa kekayaan pada daerah Timur Tengah memanglah banyak bersumber dari minyak bumi yang mereka kelola untuk memenuhi kebutuhan minyak di seluruh dunia. Pada sebuah Dewan Kerjasama Teluk mencatat bahwa kawasan tersebut telah ikut andil dalam memasok dalam ketersediaan minyak global di seluruh dunia hingga seperlimanya, itu memang sungguh menakjubkan untuk membangun kekayaan pada suatu negara memanglah amat cukup.

Dalam perihal minyak saja negara tersebut dapoat pemasukan kisarajn 80 hingga 90 % dari kekayaan minyak yang di operasikan negara tersebut, akan te4tapi penurunan harga minyak oapada tahun 2014 lalau berimabas pada kerugian untuk membiayai defisit anggaran negara dan operasional proyek tersebut. hingga kini hutang negara sudah tercatat hingagb US$ 400 Miloiar pada tahun 2018 lalu.

Laju ekonomi juga menjadi dampak karena merosotnya harga minyak tersebut, diamana kawasan tersebut hanya berjalan di angka 0,7 persen di tahun 2019 lalu, atau di perkirakan telah merosot di bandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai di angka 2%, padahal berdasarkan data yang ada bahwa sebelum terjadinya anjlok pada harga minyak bumi perekonomian kawasan teluk tersebut dapat menacapai di angka hingga 4 % tingginya.

Berdasarkan data yang diperoleh bisa diprediksikan bahwa mereka harus punya opsi dalam perihal minyak tersebut, untuk menunjang kembali perekonomian agar lebih maju dan sejahtera dan hutang mereka tidak bertambah dan segera terbayarkan, sebelum bencana perekonomian terjadi kembali